Contact Info
Cyber 2 Tower, 34th Floor
Jl. HR Rasuna Said, Block X-5 No. 13
Kuningan Timur, Setiabudi
South Jakarta 12950
Indonesia
corsec@alamtriminerals.id +6221 2553 3060
02 January 2026
Direct Links

Harga Aluminium Melesat ke US$3.000 per Ton, Pasokan Kian Ketat

Bisnis.com, JAKARTA – Harga aluminium dunia naik menembus level US$3.000 per ton untuk pertama kalinya sejak 2022, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global yang semakin ketat. Kenaikan ini juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap permintaan jangka panjang, khususnya dari sektor konstruksi dan energi terbarukan.

Melansir Bloomberg, Jumat (2/1/2026), lonjakan harga aluminium terjadi di tengah pembatasan kapasitas peleburan di China serta tertekannya produksi di Eropa akibat tingginya biaya listrik. Kondisi tersebut secara bertahap menggerus persediaan aluminium global dan mendorong harga naik signifikan.

Sepanjang 2025, kontrak berjangka aluminium tercatat melonjak sekitar 17%, menandakan kenaikan tahunan terbesar sejak 2021. Tren ini memposisikan aluminium sejajar dengan sejumlah logam dasar lain yang juga mencatatkan pencapaian harga tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Di sisi lain, harga tembaga juga kembali menguat setelah mencatatkan kenaikan tahunan terbesar sejak 2009. Pasokan tembaga yang ketat, ditambah gangguan operasional tambang di sejumlah negara produsen utama, menjadi faktor utama penguatan harga logam merah tersebut.

Sejumlah tambang di Indonesia, Chili hingga Republik Demokratik Kongo dilaporkan mengalami gangguan operasional pada 2025. Selain itu, kekhawatiran terhadap kebijakan tarif mendorong para pedagang meningkatkan pengiriman tembaga ke Amerika Serikat menjelang akhir tahun.

Pada perdagangan terakhir, harga tembaga naik 0,5% menjadi US$12.487 per ton, setelah sempat terkoreksi pada sesi sebelumnya. Kinerja ini menjadikan tembaga sebagai logam industri dengan performa terbaik di London Metal Exchange (LME) sepanjang lonjakan akhir tahun.

Sementara itu, harga aluminium naik 0,4% ke level US$3.008 per ton dan berpotensi mencatatkan penguatan selama 3 hari berturut-turut.

Adapun, harga nikel turut menguat 1,2% menjadi US$16.845 per ton, setelah membukukan kenaikan bulanan terbesar sejak April 2024 pada Desember lalu.

"Penguatan harga nikel didorong oleh kabar penghentian sementara aktivitas penambangan oleh PT Vale Indonesia akibat tertundanya persetujuan rencana kerja dari otoritas," tulis laporan Bloomberg.

Kendati demikian, perusahaan menyatakan persetujuan tersebut diperkirakan segera terbit dan tidak akan berdampak signifikan terhadap keberlanjutan operasional.

Pasar juga mencermati rencana pemerintah Indonesia untuk memangkas produksi nikel pada tahun ini, yang semakin memperkuat kekhawatiran terhadap pasokan global. Isu keterlambatan perizinan dinilai bukan hal baru di kawasan Asia Tenggara. Namun, tetap memberi sentimen terhadap pergerakan harga.

Di luar logam dasar, harga bijih besi turut menguat tipis. Kontrak berjangka bijih besi di Singapura naik 0,3% menjadi US$105,65 per ton, sementara pasar China tidak beroperasi karena libur nasional.